Wavy Tail

Kamis, 22 Februari 2018

Sistem Penilaian Proses Pembelajaran Sains pada Siswa


Penilaian adalah suatu kesatuan atau bagian dari pembelajaran yang tak terpisahkan dan juga bagian integral dari proses belajar mengajar. Penilaian memberi informasi pada guru tentang prestasi siswa terkait dengan tujuan pembelajaran. Guru membuat keputusan berdasarkan hasil penilaian mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan metode pembelajaran dan memperkuat proses belajar siswa. Penilaian mengukur seberapa jauh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dicapai oleh siswa. Selain melengkapi proses belajar mengajar, penilaian juga memberi umpan balik formatif dan sumatif pada guru, siswa, sekolah dan orang tua siswa.
    Pada Kurikulum 2013, penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), semua aspek penilaian meliputi : pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA; keterampilan dan proses; dan karakter dan sikap (sikap ilmiah). Prinsip penilaian kurikulum 2013 adalah sahih ,objektif, adil, terpadu, ekonomis, transparan, menyeluruh dan kesinambungan, sistematis, akuntabel, edukatif.
PENDEKATAN PENILAIAN KURIKULUM 2013
Pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian acuan kriteria (PAK)
PAK merupakan penilaian pencapaian kompetensi yang didasarkan pada kriteria ketuntasan minimal (KKM).
KKM Pengetahuan dan Keterampilan : > 2.66
KKM Sikap : Baik

RUANG LINGKUP PENILAIAN KURIKULUM 2013
Sikap :
1.            Observasi
2.            Penilaian diri
3.            Penilaian antar peserta didik
4.            Jurnal
Pengetahuan :
1.            Tes Tulis
2.            Tes Lisan
3.            Penugasan
Keterampilan :
1.            Tes Praktek
2.            Projek
3.            Portofolio
Agar penilaian terhadap pembelajaran IPA/ Sains di kelas dapat dilaksanakan dengan baik, setiap pihak yang peduli terhadap kualitas sekolah dan siswa harus berjuang bersama-sama untuk mengembangkan kemampuan menilai (assessment literacy). Kemampuan menilai adalah kuncinya. Kita harus memahami bagaimana penilaian menghubungkan kualitas pembelajaran dengan upaya untuk mempertahankan alternatif penilaian yang seimbang. Kita harus patuh dan berupaya memenuhi standar yang ditetapkan, dan saling membantu jika penilaian yang dilakukan gagal memenuhi standard ini.
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian.
Penilaian proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian proses merupakan penilaian yang menitikberatkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar. Tindak lanjut dari penilaian proses pembelajaran jika memperoleh hasil yang kurang memuaskan, maka dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).  Berarti seorang guru berusaha mendiagnosa penyebab kesukaran anak didik dalam proses belajar tersebut, pada gilirannya menemukan suatu cara sebagai solusi permasalahan tersebut. Inilah yang menjadi cikal bakal PTK bagi seorang guru. Berbeda halnya dengan kegiatan ujian, jika seorang guru menemukan anak didik tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka solusinya adalah melakukan pembelajaran remedial.
Tujuan penilaian proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar, terutama efesiensi, keefektifan, dan produktivitas dalam mencapai tujuan pengajaran. Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenaan dengan komponen-komponen proses belajar mengajar seperti tujuan pengajaran, metode, bahan pengajaran, kegiatan belajar dan mengajar guru, dan penilaian. Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenan dengan komponen-komponen yang membentuk proses belajar-mengajar dan keterkaitan antara komponen-komponen tersebut. Komponen pengajaran sebagai dimensi penilaian proses belajar-mengajar mencakup :
a.         Komponen tujuan instruksional meliputi aspek-aspek ruang lingkup tujuan, abilitas yang terkandung didalamnya, rumusan tujuan , kesesuaian dengan kemampuan siswa, jumlah dan waktu yang tersedia untuk mencapainya, kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku, keterlaksanaan dalam pengajaran.
b.        Komponen bahan pengajaran meliputi ruang lingkupnya, kesesuaian dengan tujuan, tingkat kesulitan bahan kemudahan memperoleh dan mempelajarinya, daya guna bagi siswa, keterlaksanaan sesuai dengan waktu yang tersedia, sumber-sumber untuk mempelajarinya, cara mempelajarinya, kesinambungan bahan, relevansi bahan dengan kebutuhan siswa, prasyarat mempelajarinya.
c.         Komponen siswa meliputi kemampuan prasyarat, minat dan perhatian, motivasi, sikap, cara belajar yang dimiliki, hubungan sosialisasi dengan teman sekelas, masalah belajar yang dihadapi, karakteristik dan kepribadian, kebutuhan belajar, indetitas siswa dan keluarganya yang erat kaitannya dengan  pendidikan di sekolah.
d.        Komponen guru meliputi penguasaan mata pelajaran, keterampilan mengajar, sikap keguruan, pengalaman mengajar, cara mengajar, cara menilai, kemauan mengembangkan profesinya, keterampilan berkomunikasi, kepribadian , kemampuan dan kemauaan memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa, hubungan dengan siswa dan rekan sejawatnya, penampilan dirinya, keterampilan lain yang diperlukan.
e.         Komponen alat dan sumber belajar meliputi jenis alat dan jumlahnya, daya guna, kemudahan pengadaanya, kelengkapannya, maanfaatnya bagi siswa dan guru, cara pengunaanya. Dalam alat dan sumber belajar ini termasuk alat peraga, buku sumber, laboratorium dan perlengkapan belajar lainya.
f.         Komponen penilaian meliputi jenis alat penilaian yang digunakan, isi dan rumusan pertayaan, pemeriksaan dan interprestasinya, sistem penilaian yang digunakan, pelaksanaan penilaian, tindak lanjut hasil penilaian, pemanfaatan hasil penilaian, administrasi penilaian, tingkat kesulitan soal, validitas dan reliabilitas soal penilaian, daya pembeda, frekuensi penilaian dan perencanaan penilaian.
Penilaian proses pembelajaran IPA dibagi atas ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Penilaian proses yang sifatnya kognitif dilaksanakan dengan lisan atau tertulis dalam bentuk pertanyaan objektif atau esai objektif. Penilaian proses yang sifatnya psikomotor dan afektif dilakukan dengan observasi dan digunakan untuk menentukan kualitas pembelajaran bukan untuk menentukan nilai peserta didik. Pengembangan keterampilan di laboratorium adalah kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari penilaian kognitif dan menjadi tanggung jawab guru IPA untuk melaksanakannya, teknik mengukurnya dengan observasi.
Setiap tujuan/indikator pembelajaran memiliki proses pembelajaran tertentu dan mempunyai alat ukur (tes) tertentu. Setelah proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut selesai, perlu diadakan penilaian apakah benar-benar tujuan telah tercapai. Kalau hasilnya baik, berarti proses sudah baik dan tujuan pembelajaran sudah dicapai.  Jika sebaliknya, berarti:
a.         Proses pembelajaran kurang baik/kurang tepat, dengan demikian guru harus mengulangi proses pembelajaran dengan metode yang tepat. Kemungkinan proses pembelajaran sudah tepat, hasil evaluasi rendah terjadi karena kompetensi terlalu tinggi sebab ada tujuan yang lebih rendah/prasyarat yang harus dikuasai lebih dulu. Proses pembelajaran harus diulangi dengan berpedoman pada kompetensi yang lebih rendah.
Sistem penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Oleh karena itu di perlukan pengukuran terhadap hasil belajar siswa, salah satunya dengan asesmen. Asesmen adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan berbagai alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi siswa. Penggunaan jenis assesment harus didasarkan hasil belajar yang dicapai siswa. Penilaian kinerja akan efektif mengakses kinerja siswa apabila guru dapat menetapkan kriteria kinerja dan pengskoran yang memenuhi aspek reliabilitas dan validitas. Penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi. 
Berdasarkan ulasan diatas, ada beberapa pertanyaan, sebagai berikut: 
1.        Bagaimana tanggapan anda mengenai sistem penilaian pada Kurikulum 2013 pada pembelajaran sains yang sudah digunakan pada saat ini?
2.        Bagaimana tanggapan anda sebagai guru, mengenai keluhan guru senior yang biasa menggunakan penilaian sederhana dan harus melakukan sistem penilaian sesuai  Kurikulum 2013 yng terkesan ribet dan terlalu detail ?
3.        Jika kita lihat dilapangan, banyak guru yang tidak mengikuti sistem penilaian Kurikulum 2013 dengan baik sesuai dengan standar yang ditetapkan didalam kelas. Apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut dan bagaimana solusi dari permasalahan tersebut?




12 komentar:

Wella lusia sari mengatakan...

Assalamualaikum wr.wb
Saya mencoba menanggapi pertanyaan yang pertama.
Menurut saya untuk penilaian sains di kurikulum 2013 itu tepat.tapi kita lihat kenyataannya dilapangan tidak semua guru melakukan penilaian yang ada di kurikulum 2013.untuk itu perlu dilakukan bimbingan untuj guru yang belum menerapakan sistem penilaian k 13.
Terima kasih

Unknown mengatakan...

Terimakasih artikelnya, menarik untuk dibaca..
Menanggapi pertanyaan kedua, biasanya guru senior atau yg sudah berumur agak sedikit malas mengolah data, apalagi dengan banyaknya nilai yg harus dimasukkan. Menurut saya mereka salah, seharusnya mereka mengikuti peraturan pemerintah yg sebenarnya baik, untuk kemajuan proses penilaian abad 21. Tidak ada yg langsung nyaman dengan perubahan, namun jika dinikmati dan dijalani,maka semuanya akam terasa mudah. Terimakasih

ElgAmelia mengatakan...

saya akan menanggapi pertanyaan sdri.Intan mengenai: Bagaimana tanggapan anda sebagai guru, mengenai keluhan guru senior yang biasa menggunakan penilaian sederhana dan harus melakukan sistem penilaian sesuai Kurikulum 2013 yng terkesan ribet dan terlalu detail ?

-menurut saya, wajar saja jika guru senior merasa ribet dan kesusahan dalam menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. pendidikan Indonesia terus mengalami pembenahan, dan pastinya berpengaruh pada banyak hal contohnya pada sistem penilaian KBM yang berubah. pada awalnya para guru senior pasti mengalami kesusahan karena harus mengikuti dengan standar penilaian yang ada, namun seiring waktu guru-guru senior tersebut pasti akan terbiasa, apalagi guru-guru tsb sering mendapatkan pembekalan melalui workshop/ seminar mengenai sistem penilaian dalam kurikulum 2013.

terima kasih.

Unknown mengatakan...

1. Bagaimana tanggapan anda mengenai sistem penilaian pada Kurikulum 2013 pada pembelajaran sains yang sudah digunakan pada saat ini?
sistem penilaian pada kurikulum 2013 sudah sangat baik untuk mengevaluasi siswa karena sudah mencakup nilai sikap, keterampilan dan pengetahuan tinggal gurunya lagi untuk mengolah data nilai siswa tersebut.

Anonim mengatakan...

Menyikapi pertanyaan no 1.?
tanggapan saya mengenai sistem penilaian pada K13 nya sudah cukup baik krn di k13 ini sdh banyak yg di nilai baik sikap atau keterampilan tp di sini tinggal guru nya lagi harus mengelola penilaian nya itu bagai mana.

Unknown mengatakan...

Menanggapi soal no 2.
guru harus mengikuti perkembangan zaman. Untuk mengatasi hal demikian, itulah di tuntut guru untuk mengikuti pelatihan pelatihan yang sering di adakan khusus utk guru, agar guru bisa memenuhi tuntutan yang telah di tetapkan oleh pemerintah.

Unknown mengatakan...

Menanggapi soal yang pertama. Dalam kurikulum 2013, sistem penilaian yang digunakan mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Namun ada yang berbeda di dalamnya. Pada kurikulum 2013, penilaian peserta didik lebih detail lagi. Hal ini tampak dari penambahan jam belajar yang membuat guru bisa lebih leluasa dan valid dalam melakukan penilaian. Hal yang membedakan dalam sistem penilaian dalam kurikulum 2013 adalah penilaian bukan monopoli guru saja. Dalam kurikulum ini juga dikenal penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik. Peserta didik dengan dibekali nilai kejujuran akan melakukan penilaian terhadap sesama dan juga dirinya sendiri. Hal ini tentu akan membuat peserta didik semakin terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Unknown mengatakan...

Assalamualaikum saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor 2, Bagaimana tanggapan anda sebagai guru, mengenai keluhan guru senior yang biasa menggunakan penilaian sederhana dan harus melakukan sistem penilaian sesuai Kurikulum 2013 yng terkesan ribet dan terlalu detail ?
Menurut saya guru senior memang agak sulit untuk memahami penilaian k13 yg cendrung ribet saat ini mereka cendrung menggunakan penilaian yang lebih mudah menurutnya dikarnakan keterbatasan pemahaman mereka seperti sulit menerima hal2 baru yg tdk pahami, tetapi untuk sekolah yang sdh menggunakan k13 saya rasa sudah di adakan workshop ttng penilaian k13 dan pelatihan2 guru dan pelatihan itu sdh di lakukan berxx, sehingga setidaknya mreka mmpunyai gambaran ttbg langkah2 penilaian yg baru tersebut harus diterapkan

Unknown mengatakan...

Saya menanggapi pertanyaan no 1.
Menurut saya penilaian pada kurikulum 2013 sudah baik dan tepat. karena pada penilaian kurikulum 2013, penilaian tidak hanya berfokus atau monoton pada satu aspek penilaian saja tetapi penilaian kurikulum 2013 ada 3 ckupan aspek yang menjadi penilaian siswa yaitu pengetetahuan, sikap dan keterampilaan. Banyak indikator-indikator yang menjadi penilaian pada kurikulum 2013 ini, jadi siswa yang kurang pada satu aspek tetapi lebih pada aspek lainnya dapat diketahui oleh guru. Pada kurikulum 2013 adanya penilaian diri dan penilaian antar teman, kedua penilaian ini tidak berasal dari guru tetapi siswa dapat menilai dirinya sendiri dan menilai teman-temannya.

hendrirudyawan18 mengatakan...

Jika kita lihat dilapangan, banyak guru yang tidak mengikuti sistem penilaian Kurikulum 2013 dengan baik sesuai dengan standar yang ditetapkan didalam kelas. Apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut dan bagaimana solusi dari permasalahan tersebut?
menanggapi ini, kecakapan guru lah yang perlu di tanyakan, apakah ia sudah paham dengan konsep penilaian k13, jika sudah mengapa tak dilakukan, yang hanya membuat guru tak mampu mengikuti tuntuanya, namun jika memang belkum mengetahui penilaian k13 maka pemerataan pengetahuan ini perlu di perbaiki, dinas terkait kembali melakukan pelatika kembali tentang hal tersebut.

Unknown mengatakan...

Sya mencoba menjawab prtanyaan no 2.seorang guru senior hanya saja belum trbiasa dgn penilan trsbt. Jika trus mnilai guru trsbut akan terbiasa. Lgi pula penilain nya sama saja hanya pada kurikulum 2013 ad penambhan mendeskripsikan nilai yg tlah d berikan. Sekian..

Unknown mengatakan...

Bagaimana tanggapan anda mengenai sistem penilaian pada Kurikulum 2013 pada pembelajaran sains yang sudah digunakan pada saat ini?sistem penilaian K13 sudah sangat bagus karena sains tidak dapat dilihata dari segi aspek pengetahuan saja tetapi juga dari aspek keterampilan yang dihasilkan sehingga mampu membentuk suatu sikap ilmiah kepada sipembelajar

Posting Komentar