Wavy Tail

Kamis, 01 Februari 2018

Konsep Model Pembelajaran dan Evaluasi Pembelajaran Sains

            Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
           Dalam pengajaran sains seringkali guru melakukan pengajaran yang modelnya satu arah. Guru lebih sering memberikan informasi tentang pengetahuan sains. Pengajaran dengan model seperti itu menyebabkan siswa tidak termotivasi untuk belajar sains. Belajar dengan hanya menerima informasi dari guru kurang bermakna bagi siswa. Banyak siswa yang menganggap pelajaran sains sebagai pelajaran yang menakutkan, mereka mengingat-ingat kembali penjelasan guru dan menuliskanya lagi pada waktu ujian.
            Siswa yang mempelajari sains melalui pengalaman langsung akan lebih menghayati pelajaran sains itu sendiri. Mempelajari biologi melalui pengamatan tentang bagaimana makhluk dapat melakukan perkembangbiakan maka siswa menemukan fakta bahwa mahluk hidup dapat berkembangbiak melalui beberapa cara. Bila fakta mengenai hal tersebut dibiarkan begitu saja, maka pengetahuan siswa tentang perkembangbiakan kurang bermakna. Bila siswa diajak mendiskusikan peran perkembangbiakan dalam kelangsungan jenis selain beradaptasi dan seleksi alam, maka pengetahuan siswa tentang perkembangbiakan secara umum membekalinya tentang bagaimana cara mempertahankan kelestarian jenis.
            Pembaharuan pengajaran sains di sekolah dapat ditempuh dengan mengacu pada prioritas pengajaran sains. Kesadaran anak didik dapat dibina dan ditumbuhkembangkan melalui pendidikan sains dengan berbagai pendekatan, sehingga sekolah tidak sekedar menjadikan outputnya hanya dapat membaca saja dan memiliki pengetahuan yang sebenarnya kurang berfungsi dalam mewujudkan kemandirianya, melainkan yang sangat diharapkan adalah lulusan sekolah yang melek sains, melek teknologi dan melek pikir.
            Salah satu komponen penting dalam sistem pembelajaran adalah penilaian atau evaluasi. Oleh karena itu, perangkat penilaian merupakan bagian integral yang dikembangkan berdasarkan tuntutan tujuan pendidikan. Evaluasi berfungsi untuk mengenal sejauh mana tujuan belajar telah dapat dicapai siswa, sebagai umpan balik bagi guru untuk menilai keberhasilan program belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Evaluasi harus dapat mengukur hasil belajar tersebut. Evaluasi belajar dalam pembelajaran sains dikenal dengan istilah ulangan, dan sebagai hasilnya dinyatakan dalam bentuk nilai-nilai. Namum pada kenyataanya banyak masalah yang dialami oleh siswa dalam belajar sains, sehingga tidak mengherankan jika hasil ulangan siswa tersebut rendah. Agar evaluasi tidak menimbulkan masalah maka guru sains harus memperhatikan hal-hal berikut ini : jangan terlalu sering memberikan ulangan, karena sesuatu yang rutin tidak menimbulkan tantangan bagi siswa, hasil ulangan yang dikembalikan kepada siswa setelah tenggang waktu yang lama, tidak akan menimbulkan motivasi belajar lagi, karena siswa sudah lupa akan permasalahan yang dibahas, soal- soal ulangan harus sesuai tingkat kesukaranya dengan aspek dari tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan lagi sebelumnya, pembahasan hasil ulangan yang hasilnya kurang memuaskan dapat pula meningkatkan motivasi belajar siswa, Waktu pemberian evaluasi tidak perlu selalu berdasarkan perjanjian. Pemberian ulangan secara tiba-tiba dapat pula memotivasi siswa untuk terus- menerus belajar. Tetapi tehnik ini umumnya kurang dapat diharapkan hasilnya.
            Evaluasi pembelajaran sains dapat berpedoman pada prinsip kebermaknaan yaitu: prinsip prasyarat, prinsip modeling, prinsip menarik, prinsip partisipasi, prinsip penyebaran jadwal, prinsip konsekuen dan kondisi yang menyenagkan serta prinsip komunikasi terbuka.

0 komentar:

Posting Komentar