Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di
kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa
dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Dalam pengajaran sains seringkali guru melakukan
pengajaran yang modelnya satu arah. Guru lebih sering memberikan informasi
tentang pengetahuan sains. Pengajaran dengan model seperti itu menyebabkan
siswa tidak termotivasi untuk belajar sains. Belajar dengan hanya menerima
informasi dari guru kurang bermakna bagi siswa. Banyak siswa yang menganggap
pelajaran sains sebagai pelajaran yang menakutkan, mereka mengingat-ingat
kembali penjelasan guru dan menuliskanya lagi pada waktu ujian.
Siswa yang mempelajari sains melalui pengalaman langsung
akan lebih menghayati pelajaran sains itu sendiri. Mempelajari biologi melalui
pengamatan tentang bagaimana makhluk dapat melakukan perkembangbiakan maka
siswa menemukan fakta bahwa mahluk hidup dapat berkembangbiak melalui beberapa
cara. Bila fakta mengenai hal tersebut dibiarkan begitu saja, maka pengetahuan
siswa tentang perkembangbiakan kurang bermakna. Bila siswa diajak mendiskusikan
peran perkembangbiakan dalam kelangsungan jenis selain beradaptasi dan seleksi
alam, maka pengetahuan siswa tentang perkembangbiakan secara umum membekalinya
tentang bagaimana cara mempertahankan kelestarian jenis.
Pembaharuan pengajaran sains
di sekolah dapat ditempuh dengan mengacu pada prioritas pengajaran sains.
Kesadaran anak didik dapat dibina dan ditumbuhkembangkan melalui pendidikan
sains dengan berbagai pendekatan, sehingga sekolah tidak sekedar menjadikan
outputnya hanya dapat membaca saja dan memiliki pengetahuan yang sebenarnya
kurang berfungsi dalam mewujudkan kemandirianya, melainkan yang sangat
diharapkan adalah lulusan sekolah yang melek sains, melek teknologi dan melek
pikir.
Salah satu komponen penting dalam sistem
pembelajaran adalah penilaian atau evaluasi. Oleh karena itu, perangkat
penilaian merupakan bagian integral yang dikembangkan berdasarkan tuntutan
tujuan pendidikan. Evaluasi berfungsi untuk mengenal sejauh mana tujuan belajar telah dapat
dicapai siswa, sebagai umpan balik bagi guru untuk menilai keberhasilan program
belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Evaluasi harus dapat mengukur hasil
belajar tersebut. Evaluasi belajar dalam
pembelajaran sains dikenal dengan istilah ulangan, dan sebagai hasilnya
dinyatakan dalam bentuk nilai-nilai. Namum pada kenyataanya banyak masalah yang
dialami oleh siswa dalam belajar sains, sehingga tidak mengherankan jika hasil
ulangan siswa tersebut rendah. Agar evaluasi tidak menimbulkan masalah maka
guru sains harus memperhatikan hal-hal berikut ini : jangan terlalu sering memberikan ulangan, karena
sesuatu yang rutin tidak menimbulkan tantangan bagi siswa, hasil ulangan yang dikembalikan kepada siswa setelah
tenggang waktu yang lama, tidak akan menimbulkan motivasi belajar lagi, karena
siswa sudah lupa akan permasalahan yang dibahas, soal- soal ulangan harus sesuai
tingkat kesukaranya dengan aspek dari tujuan instruksional khusus yang telah
ditentukan lagi sebelumnya, pembahasan hasil ulangan yang
hasilnya kurang memuaskan dapat pula meningkatkan motivasi belajar siswa, Waktu pemberian evaluasi tidak perlu selalu
berdasarkan perjanjian. Pemberian ulangan secara tiba-tiba dapat pula
memotivasi siswa untuk terus- menerus belajar. Tetapi tehnik ini umumnya kurang
dapat diharapkan hasilnya.
Evaluasi pembelajaran sains dapat
berpedoman pada prinsip kebermaknaan yaitu: prinsip prasyarat, prinsip
modeling, prinsip menarik, prinsip partisipasi, prinsip penyebaran jadwal,
prinsip konsekuen dan kondisi yang menyenagkan serta prinsip komunikasi
terbuka.

0 komentar:
Posting Komentar