Di dalam proses pembelajaran guru harus
memiliki strategi pembelajaran yang tepat agar siswa dapat mencapai tujuan
pembelajaran dengan baik. Salah satu unsur dalam strategi pembelajaran adalah
menguasai teknik-teknik penyajian atau metode model mengajar.
Ciri-ciri penggunaan model pembelajaran itu baik, bila semua
kegiatan pembelajaran dapat:
ü Mengundang rasa ingin tahu murid
ü Menantang murid untuk
belajar
ü Mengaktifkan mental, fisik dan psikis
murid
ü Memudahkan guru
ü Mengembangkan kreativitas murid
ü Mengembangkan pemahaman murid terhadap
materi yang dipelajari
Ø Model Pembelajaran Somatic Auditory
Visual Intelectual (SAVI)
Pengertian Model Pembelajaran
Somatic Auditory Visula Intelectual (SAVI) menurut Dewiyani (2012) dapat
diuraikan sebagai berikut : 1) Somatic berasal dari bahasa Yunani yaitu soma
yang berarti tubuh. Jika dikaitkan dengan belajar maka dapat diartikan belajar
dengan indera peraba, kinestetik, praktis melibatkan fisik dan menggunakan
serta mengerakkan tubuh ketika belajar atau bergerak dan berbuat. Menurut Dave
Meier pembelajaran somatic adalah pembelajaran yang memanfaatkan dan melibatkan
tubuh. Temuan penelitian menyimpulkan bahwa pikiran tersebar di seluruh tubuh.
langkah-langkah model pembelajaran Somatic Auditory Visual Intelectual
(SAVI) memiliki empat tahap yaitu : 1) Pertama, persiapan. Tujuan tahap
persiapan adalah menimbulkan minat para pembelajar, memberi mereka perasaan
positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang, dan menempatkan mereka
dalam situasi optimal untuk belajar. 2) Kedua, penyampaian Tujuan tahapan ini
adalah membentuk pembelajar menentukan materi belajar yang baru dengan cara
yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan pancaindera, dan cocok semua
gaya belajar. 3) Ketiga, pelatihan. Tujuan tahap ini adalah membantu pembelajar
mengintagrasikan dan menyerap pengetahuan dan ketempilan baru dengan berbagai
cara. 4) Keempat, penampilan hasil. Tujuan tahap ini, membentuk pembelajar
menerapkan dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada
pekerjaan, sehingga hasil belajar akan melekat dan terus meningkat.
Ø Model Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Pembelajaran Kontekstual adalah konsep
pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang
diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan
mereka sehari-hari. Pembelajaran Kontekstual adalah konsep pembelajaran yang
mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi
dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Landasan filosofi CTL
adalah :
· konstruktivisme artinya filosofi belajar
yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus
mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak bisa
dipisah-pisahkan harus utuh.
· Konstruktivisme berakar pada filsafat
pragmatisme yang digagas oleh John Dewey pada awal abad ke 20 yaitu filosofi
belajar yang menekankan kepada pengembangan minat dan pengalaman siswa
Ø Model Pembelajaran Kolaboratif
Ciri-ciri
dari Model Pembelajaran Kolaboratif yaitu adanya kerja sama dua orang
atau lebih, memecahkan masalah bersama, serta mencapai tujuan
tertentu.
Bentuk-Bentuk Belajar Collaborative
a. Student Teams Achievement Divisions
(Stad):
1. Sajian Guru
2. Diskusi Kelompok siswa
3. Tes/Kuis/Silang tanya antar kelompok
4. Penguatan Guru
b.
Student Teams Achievement Devision (STAD):
Mencakup
lima langkah pokok:
1. Presentasi guru,perhatian cermat siswa,
membantu quis
2. Tim (kelompok):
a. Fungsi utama :membantu anggota
mengerjakan quis dengan baik
b. Anggota mengerjakan SST yang terbaik
untuk tim
3.
Presentasi Guru satu atau dua pereode
4.
Satu atau dua periode praktek kelompok,ada quis individual
5.
Siswa tidak diijinkan saling bantu
· Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada
penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi
belajar untuk mencapai tujuan belajar. Konsep Pembelajaran Kooperatif adalah
menciptakan interaksi yang asah, asih dan asuh, sehingga tercipta masyarakat
belajar sehingga memungkinkan siswa untuk tidak hanya belajar dari guru tetapi
juga dari sesama siswa.
Teknik
Pembelajaran Kooperatif
a.
Metode STAD (Student Teams Achievement Division)
untuk mengajarkan kepada siswa baik verbal maupun tertulis. Berikut
adalah langkah-langkah metode STAD :
· Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok.
· Tiap anggota menggunakan lembar kerja
akademik kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya
jawab atau diskusi antar anggota tim.
· Tiap minggu atau 2 minggu guru
mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan materi yang telah diberikan.
· Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas
penguasaannya terhadap materi, yang meraih prestasi tinggi diberi penghargaan.
b. Metode Jigsaw, yaitu dengan
kelompok ahli
Metode ini
dikembangkan oleh Slavin dkk. Langkah- langkah dari metode ini adalah sebagai
berikut:
· Kelas dibagi menjadi beberapa tim/kelompok
anggotanya 5-6 yang karakteristiknya heterogen.
· Bahan yang disajikan bentuk teks, tiap
siswa bertanggung jawab mempelajari.
· Setiap kelompok mempunyai tugas dan
tanggung jawab mengkaji bagiannya. Bila berkumpul disebut kelompok pakar.
· Para siswa yang ada dalam kelompok pakar
kembali ke kelompok semula untuk mengajar anggota baru mengenai materi yang
dipelajari dalam kelompok pakar.
· Setelah diadakan pertemuan dan diskusi
para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang pernah di pelajari.
· Pemberian skor diberikan / dilakukan
seperti dalam metode STAD. Nilai tertinggi diberi penghargaan oleh guru.
c. Metode TGT ( Teams Games
Tournament)
Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah
salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan,
melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan
peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan
reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam
pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa
dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran,
kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Implementasi Model Pembelajaran
TGT
Dalam pengimplementasian yang hal
yang harus diperhatikan yaitu.
· Pembelajaran terpusat pada siswa
· Proses pembelajaran dengan suasana
berkompetisi
· Pembelajaran bersifat aktif (siswa
berlomba untuk dapat menyelesaikan persoalan)
· Pembelajaran diterapkan dengan
mengelompokkan siswa menjadi tim-tim
· Dalam kompetisi diterapkan system point
· Dalam kompetisi disesuaikan dengan
kemampuan siswa atau dikenal kesetaraan dalam kinerja akademik
· Kemajuan kelompok dapak diikuti oleh
seluruh kelas melalui jurnal kelas yang diterbitkan secara mingguan
· Dalam pemberian bimbingan guru mengacu
pada jurnal
· Adanya system penghargaan bagi siswa yang
memperoleh point banyak
Model Pembelajaran Quantum Teaching
Proses
pembelajaran quantum teaching intinya pembelajaran yang menyenangkan, kreatif
tidak membosankan. Karakteristik Umum Pembelajaran Quantum sebagai berikut :
ü Berpangkal pada psikologi kognitif
ü Bersifat Humanistis bukan
positivistis-empiris
ü Siswa sebagai pebelajar menjadi pusat
perhatian.
ü Lebih bersifat pada konstruktivistis
ü Memusatkan perhatian pada interaksi yang
bermutu dan bermakna.
ü Sangat menekankan pada pencapaian
pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
ü Sangat menekankan kealamiyahan dan
kewajaran proses pembelajaran.
Model Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah
pembelajaran berdasarkan tema untuk mempelajari suatu materi guna mencapai
kompetensi tertentu. Tema adalah suatu bidang yang luas, yang menjadi fokus
pembahasan dalam pembelajaran. Topik adalah bagian dari tema / sub tema. Keunggulan
pembelajaran tematik adalah sebagai berikut :
ü Pembelajaran lebih mudah memahami apa
& mengapa mereka belajar
ü Hubungan antara konten & proses lebih
jelas
ü Mempercepat transfer konsep lintas bidang
studi
ü Belajar secara mendalam dan meluas
ü Penggunaan waktu efektif
ü Mengembangkan sikap positif
Model Pembelajaran Konstruktivisme
Model Pembelajaran Konstruktivisme merupakan suatu model
pembelajaran dimana seseorang aktif membangun pengetahuannya sendiri.
Landasan Teori :
ü Siswa mengkonstruksi idea berdasarkan
pengalaman dan interaksi dng sumber belajar
ü Hasil belajar dapat ditampilkan dengan
berbagai cara.
Langkah-langkah dari
model pembelajaran ini adalah:
ü Orientasi, Penggalian Idea,
ü Restrukturisasi Idea,
ü Aplikasi Idea,
ü Reviu,
ü Membandingkan
Model pembelajaran berbasis pengalaman
(Experiential Learning)
Model Experiential Learning adalah suatu
model proses belajar mengajar yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun
pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal
ini, Experiential Learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk
menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses
pembelajaran.
Experiential learning
dapat didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan
pengalaman yang secara terus menerus mengalami perubahan guna meningkatkan
keefektifan dari hasil belajar itu sendiri. Tujuan dari model ini adalah untuk
mempengaruhi siswa dengan tiga cara, yaitu; 1) mengubah struktur kognitif
siswa, 2) mengubah sikap siswa, dan 3) memperluas keterampilan-keterampilan
siswa yang telah ada. Ketiga elemen tersebut saling berhubungan dan memengaruhi
seara keseluruhan, tidak terpisah-pisah, karena apabila salah satu elemen tidak
ada, maka kedua elemen lainnya tidak akan efektif.
Prosedur pembelajaran dalam experiential learning
terdiri dari 4 tahapan, yaitu; 1) tahapan pengalaman nyata, 2) tahap observasi
refleksi, 3) tahap konseptualisasi, dan 4) tahap implementasi. Keempat tahap
tersebut oleh David Kolb (1984).
Model pembelajaran siklus belajar
(Learning Cycle)
Siklus belajar ( learning cycle ) merupakan model
pembelajaran yang berorientasi pada teori Piaget dan teori pembelajaran
kognitif serta aplikasi model pembelajaran konstruktivis. Model ini
dikembangkan oleh Robert Karplus dan koleganya dalam rangka memperbaiki
kurikulum sains SCIS ( Science Curriculum Improvement Study) dengan
tahapan-tahapannya : exploration, invention dan discovery, namun kemudian
dikembangkan oleh Charles R. Barman dengan tahapan-tahapannya : exploration
phase, concept introduction, dan concept application. Selanjutnya model ini
kemudian dikembangkan lagi dan dewasa ini lebih dikenal dengan model siklus
belajar sains 4-E ( 4-E science learning cycle ), dengan tahapan-tahapan :
exploration phase, explanation phase, expansion phase, evaluation phase (Carin
1993:87)
Fase atau Langkah-Langkah Siklus BelajarFase-fase siklus
belajar sains (the science learning cycle) dengan penjelasan
fase-fasenya sebagai berikut :
Fase I. Exploration (penyelidikan)
Pada
fase ini para siswa belajar melalui keterlibatan dan tindakan-tindakan,
gagasan-gagasan mereka dan hubungan-hubungan dengan materi baru diperkenalkan
dengan bimbingan guru yang minimal agar memungkinkan siswa menerapkan
pengetahuan sebelumnya, mengembangkan minat, menumbuhkan dan memelihara rasa
ingin tahu terhadap materi itu. Materi perlu disusun secara cermat sehingga
sasaran belajar itu menggunakan konsep dan gagasan yang mendasar. Selama fase
ini guru menilai pemahaman para siswa terhadap sasaran pelajaran. Menurut Bybee
bahwa, tugas guru disini tidak boleh memberitahukan atau menerangkan konsep.
Fase II. Explanation
(Pengenalan)
Pada fase
ini para siswa kurang terpusat dan ditunjukkan untuk mengembangkan mental.
Tujuan dari fase ini guru membantu para siswa memperkenalkan konsep sederhana,
jelas dan langsung yang berkaitan dengan fase sebelumnya, dengan berbagai
strategi para siswa disini harus terfokus pada pokok penemuan konsep-konsep
yang mendasar secara kooeperatif dibawah bimbingan guru (guru sebagai
fasilitator) mengajukan konsep-konsep itu secara sederhana, jelas dan langsung.
Fase
III.Expansion (Perluasan)
Pada fase ini para siswa mengembangkan konsep-konsep yang baru dipelajari
untuk diterapkan pada contoh-contoh lain, dipakai sebagai ilustrasi
konsep intinya dapat membantu para siswa mengembangkan gagasan-gagasan
mereka dalam kehidupannya.
Fase
IV. Evaluation (Evaluasi)
Pada fase ini ingin mengetahui penjelasan para siswa terhadap siklus
pembelajaran ini. Evaluasi dapat berlangsung setiap fase pembelajaran, untuk
menggiring pemahaman konsep juga perkembangan keterampilan proses. Evaluasi
bukan hanya pada akhir bab. Dari fase-fase yang disebutkan di atas menurut
Carin dan Martin tujuan paedagoginya adalah sama.
Model pembelajaran mind mapping
Mind mapping atau peta pikiran adalah suatu tekhnik
pembuatan catatan-catatan yang dapat digunakan pada situasi, kondisi
tertentu, seperti dalam pembuatan perencanaan, penyelesaian masalah, membuat
ringkasan, membuat struktur, pengumpulan ide-ide, untuk membuat catatan,
kuliah, rapat, debat dan wawancara.(Svantesson, 2004 : 1).
Langkah-Langkah
Pembuatan Mind Map
Hal-hal
yang harus dipersiapkan ketika akan membuat atau menggunakan metode mind
mapping adalah :
ü Kertas kosong tak bergaris.
ü Pena atau spidol berwarna-warni.
ü Otak dan imajinasi.
ü Buku sumber sebagai salah satu
sumber bagi siswa
Model Pembelajaran Inquiri
Menurut Piaget mendefinisikan model inkuiri adalah sebagai pembelajaran yang
mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan sendiri, dalam arti luas ingin
melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol –
simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang
satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan orang lain.
Ruang lingkup Model inkuiri
Ciri utama model pembelajaran
inkuiri, yaitu :
ü Inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa
secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya model inkuiri menempatkan
siswa sebagai subjek belajar
ü Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa
diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu yang
dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (Self
Belief). Dengan demikian model pembelajaran inkuiri menempatkan Guru bukan
sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar
siswa.
ü Dapat mengembangkan kemampuan berfikir
secara sistematis,logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual
sebagai bagian dari proses mental. (sanjaya, 2006 : 194-195).
• Kekuatan metode inkuiri, yaitu :
ü Menekankan kepada proses pengolahan
informasi oleh peserta didik sendiri,
ü Membuat konsep sendiri peserta didik
bertambah dengan penemuan-penemuan yang diperolehnya,
ü Memiliki kemungkinan besar untuk
memperbaiki dan memperluas persediaan dan penguasaan keterampilan dalam proses
kognitif peserta didik,
ü Penemuan – penemuan yang diperoleh peserta
didik dapat menjadi kepemilikannya dan sangat sulit melupakannya.
ü Tidak menjadikan guru sebagai satu –
satunya sumber belajar, karena peserta didik belajar dengan memanfaatkan
berbagai jenis sumber belajar. (Sanjaya,2006)
• Kelebihan – kelebihan dari pembelajaran inkuiri adalah :
ü Strategi pembelajaran inkuiri merupakan
pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, efektif, dan
psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap
lebih bermakna.
ü Strategi pembelajaran inkuiri memberikan
ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
ü Strategi pembelajaran inkuiri merupakan
strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang
menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman.
ü Keuntungan lain adalah strategi
pembelajaran inkuiri dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di
atas rata – rata. Artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak
akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
ü Tidak menjadikan guru sebagai satu –
satunya sunber belajar, karena peserta didik belajar dengan memanfaatkan
berbagai jenis sumber belajar. (Sanjaya, 2006 : 206).
• Langkah – langkah yang ditempuh dalam pembelajaran inkuiri
adalah :
ü Observasi (observation)
ü Bertanya (questioning)
ü Mengajukan dugaan (hipotesis)
ü Pengumpulan data (data gathering)
ü Penyimpulan (conclussioning)
Model Pembelajaran Problem-based
learning (pembelajaran berbasis masalah)
Model
pengajaran berdasarkan masalah lebih kompleks dibandingkan dua model yang telah
diuraikan sebelumnya. Model pengajaran berdasarkan masalah mempunyai ciri umum
yaitu menyajikan kepada siswa tentang masalah yang autentik dan bermakna yang
akan memberi kemudahan kepada para siswa untuk melakukan penyelidikan dan
inkuiri. Model ini juga mempunyai beberapa ciri khusus yaitu adanya pengajuan
pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu,
penyelidikan autentik, menghasilkan produk/karya dan memamerkan produk tersebut
serta adanya kerja sama. Masalah autentik adalah masalah yang terdapat dalam
kehidupan sehari-hari dan bermanfaat langsung jika ditemukan penyelesaiannya.
Sebagai contoh masalah autentik adalah ”bagaimanakah kita dapat memperbanyak
bibit bunga mawar dalam waktu yang singkat supaya dapat memenuhi permintaan
pasar” Apabila pemecahan terhadap masalah ini ditemukan, maka akan memberikan
keuntungan secara ekonomis. Masalah seperti ”bagaimanakah kandungan klorofil
daun pada tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tingkat intensitas
cahanyanya berbeda” merupakan masalah akademis yang apabila ditemukan
jawabannya belum dapat memberi manfaat praktis secara langsung.
Masalah autentik juga sangat menarik minat siswa sebagai subyek belajar, karena
terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari dan bermanfaat bagi dirinya. Dengan
mengangkat masalah-masalah autentik ke dalam kelas, maka pembelajaran akan
lebih bermakna.
Adapun landasan teoritik dan empirik model pengajaran berdasarkan masalah
adalah gagasan dan ide-ide para ahli seperti Dewey dengan kelas demokratisnya,
Piaget yang berpendapat bahwa adanya rasa ingin tahu pada anak akan memotivasi
anak untuk secara aktif membangun tampilan dala otak mereka tentang lingkungan
yang mereka hayati, Vygotsky yang merupakan tokoh dalam pengembangan konsep
konstruktivisme yang merupakan konsep yang dianut dalam model pengajaran
berdasarkan masalah.
Model pengajaran berdasarkan masalah juga mempunyai sintaks tertentu yang
merupakan ciri khas dari model ini. Berikut ini adalah sintaks model pengajaran
berdasarkan masalah dan tingkah laku guru pada setiap tahap sintak.
Tahap
Tingkah Laku Guru
ü Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang
dibutuhkan, memotivasi siswa untuk terlibat pada aktivitas pemecahan masalah
yang dipilihnya.
ü Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas
belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
ü Membimbing penyelidikan individual maupun
kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah.
ü Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan
temannya.
ü Menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang
mereka gunakan.
Dari ulasan artikel diatas, terdapat
beberapa pertanyaan diantaranya:
1. Diantara model-model pembelajaran sains
diatas , mana yang menurut kamu yang sedikit sulit untuk diterapkan pada siswa
SD dan SMP ? Berikan alasan ?
2. Diantara model-model pembelajaran sains
diatas, manakah yang sering digunakan dalm pembelajaran sains saat ini ?
3. Sebagai seorang guru, model pembelajaran yang
mana yang kamu sukai dan kamu pakai dalam pembelajaran sains disekolah,
kemukakan alasannya ?