Wavy Tail

Kamis, 22 Februari 2018

Sistem Penilaian Proses Pembelajaran Sains pada Siswa


Penilaian adalah suatu kesatuan atau bagian dari pembelajaran yang tak terpisahkan dan juga bagian integral dari proses belajar mengajar. Penilaian memberi informasi pada guru tentang prestasi siswa terkait dengan tujuan pembelajaran. Guru membuat keputusan berdasarkan hasil penilaian mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan metode pembelajaran dan memperkuat proses belajar siswa. Penilaian mengukur seberapa jauh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dicapai oleh siswa. Selain melengkapi proses belajar mengajar, penilaian juga memberi umpan balik formatif dan sumatif pada guru, siswa, sekolah dan orang tua siswa.
    Pada Kurikulum 2013, penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), semua aspek penilaian meliputi : pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA; keterampilan dan proses; dan karakter dan sikap (sikap ilmiah). Prinsip penilaian kurikulum 2013 adalah sahih ,objektif, adil, terpadu, ekonomis, transparan, menyeluruh dan kesinambungan, sistematis, akuntabel, edukatif.
PENDEKATAN PENILAIAN KURIKULUM 2013
Pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian acuan kriteria (PAK)
PAK merupakan penilaian pencapaian kompetensi yang didasarkan pada kriteria ketuntasan minimal (KKM).
KKM Pengetahuan dan Keterampilan : > 2.66
KKM Sikap : Baik

RUANG LINGKUP PENILAIAN KURIKULUM 2013
Sikap :
1.            Observasi
2.            Penilaian diri
3.            Penilaian antar peserta didik
4.            Jurnal
Pengetahuan :
1.            Tes Tulis
2.            Tes Lisan
3.            Penugasan
Keterampilan :
1.            Tes Praktek
2.            Projek
3.            Portofolio
Agar penilaian terhadap pembelajaran IPA/ Sains di kelas dapat dilaksanakan dengan baik, setiap pihak yang peduli terhadap kualitas sekolah dan siswa harus berjuang bersama-sama untuk mengembangkan kemampuan menilai (assessment literacy). Kemampuan menilai adalah kuncinya. Kita harus memahami bagaimana penilaian menghubungkan kualitas pembelajaran dengan upaya untuk mempertahankan alternatif penilaian yang seimbang. Kita harus patuh dan berupaya memenuhi standar yang ditetapkan, dan saling membantu jika penilaian yang dilakukan gagal memenuhi standard ini.
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian.
Penilaian proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian proses merupakan penilaian yang menitikberatkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar. Tindak lanjut dari penilaian proses pembelajaran jika memperoleh hasil yang kurang memuaskan, maka dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).  Berarti seorang guru berusaha mendiagnosa penyebab kesukaran anak didik dalam proses belajar tersebut, pada gilirannya menemukan suatu cara sebagai solusi permasalahan tersebut. Inilah yang menjadi cikal bakal PTK bagi seorang guru. Berbeda halnya dengan kegiatan ujian, jika seorang guru menemukan anak didik tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka solusinya adalah melakukan pembelajaran remedial.
Tujuan penilaian proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar, terutama efesiensi, keefektifan, dan produktivitas dalam mencapai tujuan pengajaran. Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenaan dengan komponen-komponen proses belajar mengajar seperti tujuan pengajaran, metode, bahan pengajaran, kegiatan belajar dan mengajar guru, dan penilaian. Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenan dengan komponen-komponen yang membentuk proses belajar-mengajar dan keterkaitan antara komponen-komponen tersebut. Komponen pengajaran sebagai dimensi penilaian proses belajar-mengajar mencakup :
a.         Komponen tujuan instruksional meliputi aspek-aspek ruang lingkup tujuan, abilitas yang terkandung didalamnya, rumusan tujuan , kesesuaian dengan kemampuan siswa, jumlah dan waktu yang tersedia untuk mencapainya, kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku, keterlaksanaan dalam pengajaran.
b.        Komponen bahan pengajaran meliputi ruang lingkupnya, kesesuaian dengan tujuan, tingkat kesulitan bahan kemudahan memperoleh dan mempelajarinya, daya guna bagi siswa, keterlaksanaan sesuai dengan waktu yang tersedia, sumber-sumber untuk mempelajarinya, cara mempelajarinya, kesinambungan bahan, relevansi bahan dengan kebutuhan siswa, prasyarat mempelajarinya.
c.         Komponen siswa meliputi kemampuan prasyarat, minat dan perhatian, motivasi, sikap, cara belajar yang dimiliki, hubungan sosialisasi dengan teman sekelas, masalah belajar yang dihadapi, karakteristik dan kepribadian, kebutuhan belajar, indetitas siswa dan keluarganya yang erat kaitannya dengan  pendidikan di sekolah.
d.        Komponen guru meliputi penguasaan mata pelajaran, keterampilan mengajar, sikap keguruan, pengalaman mengajar, cara mengajar, cara menilai, kemauan mengembangkan profesinya, keterampilan berkomunikasi, kepribadian , kemampuan dan kemauaan memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa, hubungan dengan siswa dan rekan sejawatnya, penampilan dirinya, keterampilan lain yang diperlukan.
e.         Komponen alat dan sumber belajar meliputi jenis alat dan jumlahnya, daya guna, kemudahan pengadaanya, kelengkapannya, maanfaatnya bagi siswa dan guru, cara pengunaanya. Dalam alat dan sumber belajar ini termasuk alat peraga, buku sumber, laboratorium dan perlengkapan belajar lainya.
f.         Komponen penilaian meliputi jenis alat penilaian yang digunakan, isi dan rumusan pertayaan, pemeriksaan dan interprestasinya, sistem penilaian yang digunakan, pelaksanaan penilaian, tindak lanjut hasil penilaian, pemanfaatan hasil penilaian, administrasi penilaian, tingkat kesulitan soal, validitas dan reliabilitas soal penilaian, daya pembeda, frekuensi penilaian dan perencanaan penilaian.
Penilaian proses pembelajaran IPA dibagi atas ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Penilaian proses yang sifatnya kognitif dilaksanakan dengan lisan atau tertulis dalam bentuk pertanyaan objektif atau esai objektif. Penilaian proses yang sifatnya psikomotor dan afektif dilakukan dengan observasi dan digunakan untuk menentukan kualitas pembelajaran bukan untuk menentukan nilai peserta didik. Pengembangan keterampilan di laboratorium adalah kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari penilaian kognitif dan menjadi tanggung jawab guru IPA untuk melaksanakannya, teknik mengukurnya dengan observasi.
Setiap tujuan/indikator pembelajaran memiliki proses pembelajaran tertentu dan mempunyai alat ukur (tes) tertentu. Setelah proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut selesai, perlu diadakan penilaian apakah benar-benar tujuan telah tercapai. Kalau hasilnya baik, berarti proses sudah baik dan tujuan pembelajaran sudah dicapai.  Jika sebaliknya, berarti:
a.         Proses pembelajaran kurang baik/kurang tepat, dengan demikian guru harus mengulangi proses pembelajaran dengan metode yang tepat. Kemungkinan proses pembelajaran sudah tepat, hasil evaluasi rendah terjadi karena kompetensi terlalu tinggi sebab ada tujuan yang lebih rendah/prasyarat yang harus dikuasai lebih dulu. Proses pembelajaran harus diulangi dengan berpedoman pada kompetensi yang lebih rendah.
Sistem penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Oleh karena itu di perlukan pengukuran terhadap hasil belajar siswa, salah satunya dengan asesmen. Asesmen adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan berbagai alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi siswa. Penggunaan jenis assesment harus didasarkan hasil belajar yang dicapai siswa. Penilaian kinerja akan efektif mengakses kinerja siswa apabila guru dapat menetapkan kriteria kinerja dan pengskoran yang memenuhi aspek reliabilitas dan validitas. Penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi. 
Berdasarkan ulasan diatas, ada beberapa pertanyaan, sebagai berikut: 
1.        Bagaimana tanggapan anda mengenai sistem penilaian pada Kurikulum 2013 pada pembelajaran sains yang sudah digunakan pada saat ini?
2.        Bagaimana tanggapan anda sebagai guru, mengenai keluhan guru senior yang biasa menggunakan penilaian sederhana dan harus melakukan sistem penilaian sesuai  Kurikulum 2013 yng terkesan ribet dan terlalu detail ?
3.        Jika kita lihat dilapangan, banyak guru yang tidak mengikuti sistem penilaian Kurikulum 2013 dengan baik sesuai dengan standar yang ditetapkan didalam kelas. Apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut dan bagaimana solusi dari permasalahan tersebut?




Kamis, 15 Februari 2018

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KHAS SAINS


Di dalam proses pembelajaran guru harus memiliki strategi pembelajaran yang tepat agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Salah satu unsur dalam strategi pembelajaran adalah menguasai teknik-teknik penyajian atau metode model mengajar.

Ciri-ciri penggunaan model pembelajaran itu baik, bila semua kegiatan pembelajaran dapat:
ü  Mengundang rasa ingin tahu murid
ü  Menantang murid untuk belajar     
ü  Mengaktifkan mental, fisik dan psikis murid
ü  Memudahkan guru
ü  Mengembangkan kreativitas murid
ü  Mengembangkan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari

Ø Model Pembelajaran Somatic Auditory Visual Intelectual (SAVI)

 Pengertian Model Pembelajaran  Somatic Auditory Visula Intelectual (SAVI) menurut Dewiyani (2012) dapat diuraikan sebagai berikut : 1) Somatic berasal dari bahasa Yunani yaitu soma yang berarti tubuh. Jika dikaitkan dengan belajar maka dapat diartikan belajar dengan indera peraba, kinestetik, praktis melibatkan fisik dan menggunakan serta mengerakkan tubuh ketika belajar atau bergerak dan berbuat. Menurut Dave Meier pembelajaran somatic adalah pembelajaran yang memanfaatkan dan melibatkan tubuh. Temuan penelitian menyimpulkan bahwa pikiran tersebar di seluruh tubuh. langkah-langkah model pembelajaran Somatic Auditory Visual  Intelectual (SAVI) memiliki empat tahap yaitu : 1) Pertama, persiapan. Tujuan tahap persiapan adalah menimbulkan minat para pembelajar, memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang, dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar. 2) Kedua, penyampaian Tujuan tahapan ini adalah membentuk pembelajar menentukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan pancaindera, dan cocok semua gaya belajar. 3) Ketiga, pelatihan. Tujuan tahap ini adalah membantu pembelajar mengintagrasikan dan menyerap pengetahuan dan ketempilan baru dengan berbagai cara. 4) Keempat, penampilan hasil. Tujuan tahap ini, membentuk pembelajar menerapkan dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan, sehingga hasil belajar akan melekat dan terus meningkat.

Ø Model Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Pembelajaran Kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran Kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
   Landasan filosofi CTL adalah :
·      konstruktivisme artinya filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak bisa dipisah-pisahkan harus utuh.
·      Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatisme yang digagas oleh John Dewey pada awal abad ke 20 yaitu filosofi belajar yang menekankan kepada pengembangan minat dan pengalaman siswa

Ø Model Pembelajaran Kolaboratif

      Ciri-ciri dari Model Pembelajaran Kolaboratif  yaitu adanya kerja sama dua orang atau lebih,   memecahkan masalah bersama, serta mencapai tujuan tertentu.
Bentuk-Bentuk Belajar Collaborative
a. Student Teams Achievement Divisions (Stad):
     1.       Sajian Guru
     2.       Diskusi Kelompok siswa
     3.       Tes/Kuis/Silang tanya antar kelompok
     4.       Penguatan Guru
                b. Student Teams Achievement Devision (STAD):
                   Mencakup lima langkah pokok:
1.       Presentasi guru,perhatian cermat siswa, membantu quis
2.       Tim (kelompok):
a. Fungsi utama :membantu anggota mengerjakan quis dengan baik
b. Anggota mengerjakan SST yang terbaik untuk tim
     3.   Presentasi Guru satu atau dua pereode
     4.   Satu atau dua periode praktek kelompok,ada quis individual
     5.   Siswa tidak diijinkan saling bantu
·        Model Pembelajaran Kooperatif

        Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Konsep Pembelajaran Kooperatif adalah menciptakan interaksi yang asah, asih dan asuh, sehingga tercipta masyarakat belajar sehingga memungkinkan siswa untuk tidak hanya belajar dari guru tetapi juga dari sesama siswa.
        Teknik Pembelajaran Kooperatif
       a. Metode STAD (Student Teams Achievement Division)
           untuk mengajarkan kepada siswa baik verbal maupun tertulis. Berikut adalah langkah-langkah metode STAD :
·         Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok.
·         Tiap anggota menggunakan lembar kerja akademik kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar anggota tim.
·         Tiap minggu atau 2 minggu guru mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan materi yang telah diberikan.
·         Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap materi, yang meraih prestasi tinggi diberi penghargaan.
    b. Metode Jigsaw, yaitu dengan kelompok ahli
      Metode ini dikembangkan oleh Slavin dkk. Langkah- langkah dari metode ini adalah sebagai berikut:
·         Kelas dibagi menjadi beberapa tim/kelompok anggotanya 5-6 yang karakteristiknya heterogen.
·         Bahan yang disajikan bentuk teks, tiap siswa bertanggung jawab mempelajari.
·         Setiap kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab mengkaji bagiannya. Bila berkumpul disebut kelompok pakar.
·         Para siswa yang ada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula untuk mengajar anggota baru mengenai materi yang dipelajari dalam kelompok pakar.
·         Setelah diadakan pertemuan dan diskusi para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang pernah di pelajari.
·         Pemberian skor diberikan / dilakukan seperti dalam metode STAD. Nilai tertinggi diberi penghargaan oleh guru.
    c.  Metode TGT ( Teams Games Tournament)
                     Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
     Implementasi Model Pembelajaran TGT
      Dalam pengimplementasian yang hal yang harus diperhatikan yaitu.
·         Pembelajaran terpusat pada siswa
·         Proses pembelajaran dengan suasana berkompetisi
·         Pembelajaran bersifat aktif (siswa berlomba untuk dapat menyelesaikan persoalan)
·         Pembelajaran diterapkan dengan mengelompokkan siswa menjadi tim-tim
·         Dalam kompetisi diterapkan system point
·         Dalam kompetisi disesuaikan dengan kemampuan siswa atau dikenal kesetaraan dalam kinerja akademik
·         Kemajuan kelompok dapak diikuti oleh seluruh kelas melalui jurnal kelas yang diterbitkan secara mingguan
·         Dalam pemberian bimbingan guru mengacu pada jurnal
·         Adanya system penghargaan bagi siswa yang memperoleh point banyak

    Model Pembelajaran Quantum Teaching

      Proses pembelajaran quantum teaching intinya pembelajaran yang menyenangkan, kreatif tidak membosankan. Karakteristik Umum Pembelajaran Quantum sebagai berikut :
ü  Berpangkal pada psikologi kognitif
ü  Bersifat Humanistis bukan positivistis-empiris
ü  Siswa sebagai pebelajar menjadi pusat perhatian.
ü  Lebih bersifat pada konstruktivistis
ü  Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna.
ü   Sangat menekankan pada pencapaian pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
ü  Sangat menekankan kealamiyahan dan kewajaran proses pembelajaran.

    Model Pembelajaran Tematik

 Pembelajaran tematik adalah pembelajaran berdasarkan tema untuk mempelajari suatu materi guna mencapai kompetensi tertentu. Tema adalah suatu bidang yang luas, yang menjadi fokus pembahasan dalam pembelajaran. Topik adalah bagian dari tema / sub tema. Keunggulan pembelajaran tematik adalah sebagai berikut :

ü  Pembelajaran lebih mudah memahami apa & mengapa mereka belajar
ü  Hubungan antara konten & proses lebih jelas
ü  Mempercepat transfer konsep lintas bidang studi
ü  Belajar secara mendalam dan meluas
ü  Penggunaan waktu efektif
ü  Mengembangkan sikap positif

    Model Pembelajaran Konstruktivisme

Model Pembelajaran Konstruktivisme merupakan suatu model pembelajaran dimana seseorang aktif membangun pengetahuannya sendiri.
            Landasan Teori :
ü  Siswa mengkonstruksi idea berdasarkan pengalaman dan interaksi dng sumber belajar
ü  Hasil belajar dapat ditampilkan dengan berbagai cara.
        Langkah-langkah dari model pembelajaran ini adalah:
ü  Orientasi, Penggalian Idea,
ü  Restrukturisasi Idea,
ü   Aplikasi Idea,
ü  Reviu,
ü  Membandingkan

    Model pembelajaran berbasis pengalaman (Experiential Learning)

Model Experiential Learning adalah suatu model proses belajar mengajar yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini, Experiential Learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran.
                    Experiential learning dapat didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan pengalaman yang secara terus menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan dari hasil belajar itu sendiri. Tujuan dari model ini adalah untuk mempengaruhi siswa dengan tiga cara, yaitu; 1) mengubah struktur kognitif siswa, 2) mengubah sikap siswa, dan 3) memperluas keterampilan-keterampilan siswa yang telah ada. Ketiga elemen tersebut saling berhubungan dan memengaruhi seara keseluruhan, tidak terpisah-pisah, karena apabila salah satu elemen tidak ada, maka kedua elemen lainnya tidak akan efektif.
                     Prosedur pembelajaran dalam experiential learning terdiri dari 4 tahapan, yaitu; 1) tahapan pengalaman nyata, 2) tahap observasi refleksi, 3) tahap konseptualisasi, dan 4) tahap implementasi. Keempat tahap tersebut oleh David Kolb (1984).

    Model pembelajaran siklus belajar (Learning Cycle)

                    Siklus belajar ( learning cycle ) merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada teori Piaget dan teori pembelajaran kognitif serta aplikasi model pembelajaran konstruktivis. Model ini dikembangkan oleh Robert Karplus dan koleganya dalam rangka memperbaiki kurikulum sains SCIS  ( Science Curriculum Improvement Study) dengan tahapan-tahapannya : exploration, invention dan discovery, namun kemudian dikembangkan oleh Charles R. Barman dengan tahapan-tahapannya : exploration phase, concept introduction, dan concept application. Selanjutnya model ini kemudian dikembangkan lagi dan dewasa ini lebih dikenal dengan model siklus belajar sains 4-E ( 4-E science learning cycle ), dengan tahapan-tahapan : exploration phase, explanation phase, expansion phase, evaluation phase (Carin 1993:87)
                Fase atau Langkah-Langkah Siklus BelajarFase-fase siklus belajar sains  (the science learning cycle)  dengan penjelasan fase-fasenya  sebagai berikut :
       Fase  I. Exploration (penyelidikan)
       Pada fase ini para siswa belajar melalui keterlibatan dan tindakan-tindakan, gagasan-gagasan mereka dan hubungan-hubungan dengan materi baru diperkenalkan dengan bimbingan guru yang minimal agar memungkinkan siswa menerapkan pengetahuan sebelumnya, mengembangkan minat, menumbuhkan dan memelihara rasa ingin tahu terhadap materi itu. Materi perlu disusun secara cermat sehingga sasaran belajar itu menggunakan konsep dan gagasan yang mendasar. Selama fase ini guru menilai pemahaman para siswa terhadap sasaran pelajaran. Menurut Bybee bahwa, tugas guru disini tidak boleh memberitahukan atau menerangkan konsep.
      Fase  II. Explanation (Pengenalan)
      Pada fase ini para siswa kurang terpusat dan ditunjukkan untuk mengembangkan mental. Tujuan dari fase ini guru membantu para siswa memperkenalkan konsep sederhana, jelas dan langsung yang berkaitan dengan fase sebelumnya, dengan berbagai strategi para siswa disini harus terfokus pada pokok penemuan konsep-konsep yang mendasar secara kooeperatif dibawah bimbingan guru (guru sebagai fasilitator) mengajukan konsep-konsep itu secara sederhana, jelas dan langsung.
      Fase  III.Expansion (Perluasan)
                     Pada fase ini para siswa  mengembangkan konsep-konsep yang baru dipelajari untuk  diterapkan pada contoh-contoh lain, dipakai sebagai ilustrasi konsep intinya dapat membantu para siswa mengembangkan  gagasan-gagasan mereka dalam kehidupannya.
      Fase  IV. Evaluation (Evaluasi)
                  Pada fase ini ingin mengetahui penjelasan para siswa terhadap siklus pembelajaran ini. Evaluasi dapat berlangsung setiap fase pembelajaran, untuk menggiring pemahaman konsep juga perkembangan keterampilan proses. Evaluasi bukan hanya pada akhir bab. Dari fase-fase yang disebutkan di atas menurut  Carin dan Martin tujuan paedagoginya adalah sama.
    Model pembelajaran mind mapping

                 Mind mapping atau peta pikiran adalah suatu tekhnik pembuatan catatan-catatan yang  dapat digunakan pada situasi, kondisi tertentu, seperti dalam pembuatan perencanaan, penyelesaian masalah, membuat ringkasan, membuat struktur, pengumpulan ide-ide, untuk membuat catatan, kuliah, rapat, debat dan wawancara.(Svantesson, 2004 : 1).
              Langkah-Langkah Pembuatan Mind Map
      Hal-hal yang harus dipersiapkan ketika akan membuat atau menggunakan metode mind mapping adalah :
ü  Kertas kosong tak bergaris.
ü  Pena atau spidol berwarna-warni.
ü  Otak dan imajinasi.
ü   Buku sumber sebagai salah satu sumber bagi siswa

    Model Pembelajaran Inquiri

                                Menurut Piaget mendefinisikan model inkuiri adalah sebagai pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan sendiri, dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol – simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan orang lain.

      Ruang lingkup Model inkuiri
      Ciri utama model pembelajaran inkuiri, yaitu :
ü  Inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya model inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar
ü  Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (Self Belief). Dengan demikian model pembelajaran inkuiri menempatkan Guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
ü  Dapat mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis,logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. (sanjaya, 2006 : 194-195).
• Kekuatan metode inkuiri, yaitu :
ü  Menekankan kepada proses pengolahan informasi oleh peserta didik sendiri,
ü  Membuat konsep sendiri peserta didik bertambah dengan penemuan-penemuan yang diperolehnya,
ü  Memiliki kemungkinan besar untuk memperbaiki dan memperluas persediaan dan penguasaan keterampilan dalam proses kognitif peserta didik,
ü  Penemuan – penemuan yang diperoleh peserta didik dapat menjadi kepemilikannya dan sangat sulit melupakannya.
ü  Tidak menjadikan guru sebagai satu – satunya sumber belajar, karena peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. (Sanjaya,2006)
• Kelebihan – kelebihan dari pembelajaran inkuiri adalah :
ü  Strategi pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, efektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
ü  Strategi pembelajaran inkuiri memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
ü  Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
ü  Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran inkuiri dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata – rata. Artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
ü  Tidak menjadikan guru sebagai satu – satunya sunber belajar, karena peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. (Sanjaya, 2006 : 206).
• Langkah – langkah yang ditempuh dalam pembelajaran inkuiri adalah :
ü  Observasi (observation)
ü  Bertanya (questioning)
ü  Mengajukan dugaan (hipotesis)
ü  Pengumpulan data (data gathering)
ü  Penyimpulan (conclussioning)

    Model Pembelajaran Problem-based learning (pembelajaran berbasis masalah)

                             Model pengajaran berdasarkan masalah lebih kompleks dibandingkan dua model yang telah diuraikan sebelumnya. Model pengajaran berdasarkan masalah mempunyai ciri umum yaitu menyajikan kepada siswa tentang masalah yang autentik dan bermakna yang akan memberi kemudahan kepada para siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Model ini juga mempunyai beberapa ciri khusus yaitu adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu, penyelidikan autentik, menghasilkan produk/karya dan memamerkan produk tersebut serta adanya kerja sama. Masalah autentik adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat langsung jika ditemukan penyelesaiannya. Sebagai contoh masalah autentik adalah ”bagaimanakah kita dapat memperbanyak bibit bunga mawar dalam waktu yang singkat supaya dapat memenuhi permintaan pasar” Apabila pemecahan terhadap masalah ini ditemukan, maka akan memberikan keuntungan secara ekonomis. Masalah seperti ”bagaimanakah kandungan klorofil daun pada tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tingkat intensitas cahanyanya berbeda” merupakan masalah akademis yang apabila ditemukan jawabannya belum dapat memberi manfaat praktis secara langsung.
                                                Masalah autentik juga sangat menarik minat siswa sebagai subyek belajar, karena terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari dan bermanfaat bagi dirinya. Dengan mengangkat masalah-masalah autentik ke dalam kelas, maka pembelajaran akan lebih bermakna.
                                                Adapun landasan teoritik dan empirik model pengajaran berdasarkan masalah adalah gagasan dan ide-ide para ahli seperti Dewey dengan kelas demokratisnya, Piaget yang berpendapat bahwa adanya rasa ingin tahu pada anak akan memotivasi anak untuk secara aktif membangun tampilan dala otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati, Vygotsky yang merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme yang merupakan konsep yang dianut dalam model pengajaran berdasarkan masalah.
                                                Model pengajaran berdasarkan masalah juga mempunyai sintaks tertentu yang merupakan ciri khas dari model ini. Berikut ini adalah sintaks model pengajaran berdasarkan masalah dan tingkah laku guru pada setiap tahap sintak.

Tahap Tingkah Laku Guru

ü  Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa untuk terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
ü  Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
ü  Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
ü  Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
               Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
ü  Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Dari ulasan artikel diatas, terdapat beberapa pertanyaan diantaranya:
1.       Diantara model-model pembelajaran sains diatas , mana yang menurut kamu yang sedikit sulit untuk diterapkan pada siswa SD dan SMP ? Berikan alasan ?
2.       Diantara model-model pembelajaran sains diatas, manakah yang sering digunakan dalm pembelajaran sains saat ini ?
3.   Sebagai seorang guru, model pembelajaran yang mana yang kamu sukai dan kamu pakai dalam pembelajaran sains disekolah, kemukakan alasannya ?